Senin, 21 Desember 2015

Praktek Kimia Korosi Ferum (Besi)


PRAKTIK KIMIA
Korosi Besi
 







Praktik Kimia Korosi Fe (Besi)

Dipersembahkan Oleh:
1.      Rizki Nur Amalia (20)
2.      Shelly Nurjanah (22)
3.      Yasinta Unggul Sukesi (27)
4.      Yuni Listiyana (28)

Kelas XII IPA 1




SMA NEGERI 1 MAJENANG
TAHUN PELAJARAN 2015/2016



A.  Tujuan
Menganalisis korosi pada besi dengan berbagai media yang berbeda. 
B.  Dasar Teori

Reaksi redoks antara logam dan beberapa zat yang akan menghasilkan senyawa-senyawa lain yang tidak diinginkan. Hal ini disebut sebagai korosi. Dalam bahsa sehari-sehari korosi biasa disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling umum adalah korosi pada besi. Dalam hal ini besi mengalami oksidasi, sedangkan udara mengalami reduksi. Pada peristiwa perkaratan juga terjadi beda potensial listrik antara zat pengotor pada logam dan permukaan normal yang tidak mengandung campuran.
Karat logam lazimnya berupa oksida atau karbonat dengan rumus Fe2O3. xH2O, suatu zat yang berwarna coklat-merah. Pada besi yang permukaanya mengandung zat pengotor akan lebih mudah menangkap elektron atau melepas elektron, sehingga berfungsi sebagai katode dan anode. Besi yang mengalami korosi bertindak sebagai anode.
Fe(s)            Fe2+(aq) + 2e           E0= +0,44 volt
Elektron bergerak ke bagian lain dari besi yang bertindak sebagai katode, dimana oksigen tereduksi.
O2(g) + 4H+(aq) + 4e - → 2H2O(l)             E0= +1,23 volt
O2(g) + 2H2O(l)  → 4OH-                       E0= + 0,40 volt
Oksidasi ion Fe2+ yang terjadi di anode berlanjut membentuk Fe3+ dan besi (III) oksida yang mengikat air (Fe2O3.xH2O) sehingga hal itu disebut karat besi.

Korosi dapat juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari proses ekstraksi logam dari bijih mineralnya. Contohnya, bijih mineral logam besi di alam bebas ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah, akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban, keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam, baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut. Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan organik. Ammoniak  (NH3)  merupakan bahan kimia yang cukup banyak digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara.  



C.  Alat dan Bahan

1.      Alat                                                       2.   Bahan
§  10 buah tabung reaksi                         +    NaCl
§  3 buah penutup                                    +    KOH
§  10 buah paku ukuran kecil                  +    CaCl2
§  Tempat gelas reaksi                             +    Air
§  Pulpen                                                 +    Minyak goreng
§  Label                                                   +    Minyak Tanah
§  Pembakar spirtus
§  Japitan

D.  Langkah Kerja

*      Menyiapkan semua alat dan bahan yang di butuhkan.
*      Menyiapkan Tabel hasil pengamatan.
*      Memperlakukan setiap paku pada tabung reaksi dengan ketentuan sebagai berikut :
Ø  Tabung A : diisi dengan sebuah paku dengan tabung reaksi yang berisikan minyak tanah sampai paku tersebut tenggelam.
Ø  Tabung B : diisi dengan paku yang tabungnya berisikan air biasa.
Ø  Tabung C : diisi dengan paku dengan air yang telah didihkan dan diberi penutup rapat  pada tabung reaksinya.
Ø  Tabung D : diisis dengan paku dalam udara kosong tabung reaksi yang tertutup rapat.
Ø  Tabung E : diisi dengan paku yang terendam minyak goreng.
Ø  Tabung F : diisi dengan larutan NaCl yang merendam paku.
Ø  Tabung G : diisi dengan tabung yang berisi air biasa yang ditutup.
Ø  Tabung H : diisi dengan sebuah paku yang gas CaCl2 dan di tutup rapat.
Ø  Tabung I : diisi dengan sebuah paku yang direndam dengan larutan KOH.
*      Menempatkan semua tabung reaksi di tempat yang tidak terpapar sinar matahari secara langsung.
*      Melakukan pengamatan selama satu minggu.
*      Mencatat hasil pengamatan dan membuat laporan pengamatan.

E.   Hasil Pengamatan Dan Hasil Pembahasan

v  Tabel Pengamatan
Tabung
Berkarat
Tidak Berkarat
A
×

B
 ××

C
× 

D

-
E

­­- 
F
××× 

G
 ×

H
 ×

I
 ××



v  Pembahasan

Dari hasil pengamatan yang telah tercantum dalam tabel kita dapat mengetahui paku mana saja yang telah berkarat dan di media mana paku yang tidak berkarat. Dari semua tabung reaksi, hanya paku di tabung D dan E yang berkarat dan yang lainya mengalami perkaratan yang berbedaan. Menurut teori yang didapat seharusnya tidak terjadi perkaratan di tabung A,C,D,dan E. Karna tidak memenuhi unsur-unsur hal yang menyebabkan berkarat. Akan tetapi di tabung A dan C tetap terjadi perkaratan.

Sedangkan tabung lainya mengalami perkaratan namun dengan kadar karat yang berbeda-beda. Hal ini menunjukan adanya kecepatan perkaratan yang berbeda-beda pada setiap tabung. Dalam hal ini paku di tabung F adalah paku yang mengalami perkaratan paling banyak. Ini menandakan bahwa larutan elektrolit yang mengenai besi juga dapat mempercepat terjadinya korosi. Begitu juga dengan  CaCl2 dan KOH yang cukup mempengaruhi perkaratan.

Hal ini menandakan terjadi kesalahan dalam melakukan praktek korosi yang telah dilakukan. Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena :
1.      Paku yang digunakan sudah dilapisi dengan anti karat sehingga sulit untuk terbentuk perkaratan.
2.      Prakterk yang dilakukan telah terjadi kesalahan dan kekurang telitian dalam melakukan praktek.
3.      Kesalahan dalam melakukan prosedur praktek.
4.      Kekurang tahuan dari siswa untuk melakukan praktek.


D. Kesimpulan
Dari hasil pratikum tersebut saya dapat menyimpulkan bahwa paku yang tidak mengalami korosi terjadi pada paku D dan F (paku dalam udara kosong tabung reaksi yang tertutup rapat dan paku direndam minyak goreng) hal ini bisa terjadi karena tidak ada kontak langsung antara oksigen dan air serta plastik merupakan pencegahan agar tidak terjadi korosi.    

           Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi adanya kontak antara udara dan air.Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak dapat bereaksi dengan oksigen yang  dapat membuatnya berkarat.
       Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Korosi Adalah :
1.      Air
2.      Oksigen


  Faktor-Faktor Yang Dapat Mempercepat Terjadinya Korosi :
1.      Elektrolit
2.      Permukaan paku

  Cara Mengatasi Korosi Adalah :
1.    Sacrificial Protection (Pengorbanan Anode)
2.    Cromium Plating (Pelapisan Dengan Kromium)
3.    Galvanisasi (Pelapisan Dengan Zink)
4.    Tin Plating (Pelapisan Dengan Timah)
5.    Dibalut Dengan Plastic
6.    Melumuri Dengan Oli Atau Minyak
7.    Dicat

F.     Saran
Setiap melakukan praktikum diharapkan untuk dapat memperhatikan prosedur kerja serta memperhatikan keselamatan kerja. Selain itu, diusahakan untuk memperbanyak referensi guna memudahkan kita baik dalam melakukan praktikum maupun dalam penyusunan laporan praktikum.

G. Daftar Pustaka
Www.Google.Com
Harnanto, Ari. 2009. KIMIA Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta. Setia Aji

Tidak ada komentar:

Posting Komentar