|
Korosi Besi
|
Praktik Kimia Korosi Fe
(Besi)
Dipersembahkan Oleh:
1.
Rizki
Nur Amalia (20)
2.
Shelly
Nurjanah (22)
3.
Yasinta
Unggul Sukesi (27)
4.
Yuni
Listiyana (28)
Kelas XII IPA 1
SMA NEGERI 1 MAJENANG
TAHUN PELAJARAN 2015/2016
A.
Tujuan
Menganalisis
korosi pada besi dengan berbagai media yang berbeda.
B.
Dasar Teori
Reaksi
redoks antara logam dan beberapa zat yang akan menghasilkan senyawa-senyawa
lain yang tidak diinginkan. Hal ini disebut sebagai korosi. Dalam bahsa
sehari-sehari korosi biasa disebut perkaratan. Contoh korosi yang paling umum
adalah korosi pada besi. Dalam hal ini besi mengalami oksidasi, sedangkan udara
mengalami reduksi. Pada peristiwa perkaratan juga terjadi beda potensial
listrik antara zat pengotor pada logam dan permukaan normal yang tidak
mengandung campuran.
Karat
logam lazimnya berupa oksida atau karbonat dengan rumus Fe2O3.
xH2O, suatu zat yang berwarna coklat-merah. Pada besi yang
permukaanya mengandung zat pengotor akan lebih mudah menangkap elektron atau
melepas elektron, sehingga berfungsi sebagai katode dan anode. Besi yang
mengalami korosi bertindak sebagai anode.
Fe(s) Fe2+(aq)
+ 2e E0= +0,44 volt
Elektron
bergerak ke bagian lain dari besi yang bertindak sebagai katode, dimana oksigen
tereduksi.
O2(g) +
4H+(aq) + 4e - → 2H2O(l) E0= +1,23 volt
O2(g) +
2H2O(l) → 4OH- E0= + 0,40 volt
Oksidasi ion Fe2+
yang terjadi di anode berlanjut membentuk Fe3+ dan besi (III) oksida
yang mengikat air (Fe2O3.xH2O)
sehingga hal itu disebut karat besi.
Korosi dapat
juga diartikan sebagai serangan yang merusak logam karena logam bereaksi secara
kimia atau elektrokimia dengan
lingkungan. Ada definisi lain yang mengatakan bahwa korosi adalah kebalikan dari
proses ekstraksi logam dari
bijih mineralnya. Contohnya,
bijih mineral logam besi di alam bebas
ada dalam bentuk senyawa besi oksida atau besi sulfida, setelah diekstraksi dan diolah,
akan dihasilkan besi yang digunakan untuk pembuatan baja atau baja paduan. Selama pemakaian, baja tersebut
akan bereaksi dengan lingkungan yang menyebabkan korosi (kembali menjadi
senyawa besi oksida).
Deret Volta dan hukum Nernst akan membantu untuk dapat
mengetahui kemungkinan terjadinya korosi. Kecepatan korosi sangat tergantung
pada banyak faktor, seperti ada atau tidaknya lapisan oksida, karena lapisan
oksida dapat menghalangi beda potensial terhadap elektroda lainnya yang
akan sangat berbeda bila masih bersih dari oksida.
Faktor yang berpengaruh terhadap korosi dapat dibedakan menjadi dua, yaitu
yang berasal dari bahan itu sendiri dan dari lingkungan. Faktor dari bahan
meliputi kemurnian bahan, struktur bahan, bentuk kristal, unsur-unsur kelumit
yang ada dalam bahan, teknik pencampuran bahan dan sebagainya.
Faktor dari lingkungan meliputi tingkat pencemaran udara, suhu, kelembaban,
keberadaan zat-zat kimia yang bersifat korosif dan sebagainya. Bahan-bahan
korosif (yang dapat menyebabkan korosi) terdiri atas asam, basa serta garam,
baik dalam bentuk senyawa an-organik maupun organik.
Penguapan dan pelepasan bahan-bahan korosif ke udara dapat mempercepat
proses korosi. Udara dalam ruangan yang terlalu asam atau basa dapat
memeprcepat proses korosi peralatan elektronik yang ada dalam ruangan tersebut.
Flour, hidrogen fluorida beserta persenyawaan-persenyawaannya dikenal sebagai bahan
korosif. Dalam industri, bahan ini umumnya dipakai untuk sintesa bahan-bahan
organik. Ammoniak (NH3) merupakan bahan kimia yang cukup banyak
digunakan dalam kegiatan industri. Pada suhu dan tekanan normal, bahan ini
berada dalam bentuk gas dan sangat mudah terlepas ke udara.
C.
Alat dan Bahan
1. Alat 2.
Bahan
§ 10
buah tabung reaksi + NaCl
§ 3
buah penutup + KOH
§ 10
buah paku ukuran kecil + CaCl2
§ Tempat
gelas reaksi + Air
§ Pulpen + Minyak
goreng
§ Label + Minyak
Tanah
§ Pembakar
spirtus
§ Japitan
D.
Langkah Kerja
Ø Tabung
A : diisi dengan sebuah paku dengan tabung reaksi yang berisikan minyak tanah
sampai paku tersebut tenggelam.
Ø Tabung
B : diisi dengan paku yang tabungnya berisikan air biasa.
Ø Tabung
C : diisi dengan paku dengan air yang telah didihkan dan diberi penutup rapat pada tabung reaksinya.
Ø Tabung
D : diisis dengan paku dalam udara kosong tabung reaksi yang tertutup rapat.
Ø Tabung
E : diisi dengan paku yang terendam minyak goreng.
Ø Tabung
F : diisi dengan larutan NaCl yang merendam paku.
Ø Tabung
G : diisi dengan tabung yang berisi air biasa yang ditutup.
Ø Tabung
H : diisi dengan sebuah paku yang gas CaCl2 dan di tutup rapat.
Ø Tabung
I : diisi dengan sebuah paku yang direndam dengan larutan KOH.
E.
Hasil Pengamatan Dan Hasil Pembahasan
v Tabel Pengamatan
|
Tabung
|
Berkarat
|
Tidak Berkarat
|
|
A
|
×
|
|
|
B
|
××
|
|
|
C
|
×
|
|
|
D
|
|
-
|
|
E
|
|
-
|
|
F
|
×××
|
|
|
G
|
×
|
|
|
H
|
×
|
|
|
I
|
××
|
|
v Pembahasan
Dari hasil
pengamatan yang telah tercantum dalam tabel kita dapat mengetahui paku mana
saja yang telah berkarat dan di media mana paku yang tidak berkarat. Dari semua
tabung reaksi, hanya paku di tabung D dan E yang berkarat dan yang lainya
mengalami perkaratan yang berbedaan. Menurut teori yang didapat seharusnya
tidak terjadi perkaratan di tabung A,C,D,dan E. Karna tidak memenuhi
unsur-unsur hal yang menyebabkan berkarat. Akan tetapi di tabung A dan C tetap
terjadi perkaratan.
Sedangkan
tabung lainya mengalami perkaratan namun dengan kadar karat yang berbeda-beda.
Hal ini menunjukan adanya kecepatan perkaratan yang berbeda-beda pada setiap
tabung. Dalam hal ini paku di tabung F adalah paku yang mengalami perkaratan
paling banyak. Ini menandakan bahwa larutan elektrolit yang mengenai besi juga
dapat mempercepat terjadinya korosi. Begitu juga dengan CaCl2 dan KOH yang cukup
mempengaruhi perkaratan.
Hal ini menandakan terjadi
kesalahan dalam melakukan praktek korosi yang telah dilakukan.
Kesalahan-kesalahan ini terjadi karena :
1. Paku
yang digunakan sudah dilapisi dengan anti karat sehingga sulit untuk terbentuk
perkaratan.
2. Prakterk
yang dilakukan telah terjadi kesalahan dan kekurang telitian dalam melakukan
praktek.
3. Kesalahan
dalam melakukan prosedur praktek.
4. Kekurang
tahuan dari siswa untuk melakukan praktek.
D. Kesimpulan
Dari hasil pratikum tersebut saya
dapat menyimpulkan bahwa paku yang tidak mengalami korosi terjadi pada paku D
dan F (paku dalam udara kosong tabung reaksi
yang tertutup rapat dan paku direndam minyak goreng) hal ini bisa terjadi
karena tidak ada kontak langsung antara oksigen dan air serta plastik merupakan
pencegahan agar tidak terjadi korosi.
Kemudian dari praktek tersebut di benarkan bahwa salah satu faktor korosi adanya kontak antara udara dan air.Agar tidak terjadi korosi pada besi jangan sampai besi terkontaminasi dengan air atau larutan yang dapat menyebabkan oksidasi sehingga besi dapat berkarat. Jika kita menghindarkan besi dari air, maka besi tidak dapat bereaksi dengan oksigen yang dapat membuatnya berkarat.
Faktor-Faktor Yang Menyebabkan Korosi
Adalah :
1.
Air
2.
Oksigen
Faktor-Faktor Yang Dapat Mempercepat
Terjadinya Korosi :
1.
Elektrolit
2. Permukaan paku
Cara Mengatasi Korosi Adalah :
1. Sacrificial
Protection (Pengorbanan Anode)
2. Cromium Plating
(Pelapisan Dengan Kromium)
3. Galvanisasi
(Pelapisan Dengan Zink)
4. Tin Plating (Pelapisan
Dengan Timah)
5. Dibalut Dengan
Plastic
6. Melumuri Dengan
Oli Atau Minyak
7. Dicat
F. Saran
Setiap
melakukan praktikum diharapkan untuk dapat memperhatikan prosedur kerja serta
memperhatikan keselamatan kerja. Selain itu, diusahakan untuk memperbanyak
referensi guna memudahkan kita baik dalam melakukan praktikum maupun dalam
penyusunan laporan praktikum.
G. Daftar
Pustaka
Www.Google.Com
Harnanto, Ari. 2009. KIMIA Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta. Setia Aji
Harnanto, Ari. 2009. KIMIA Untuk SMA/MA Kelas XII. Jakarta. Setia Aji

Tidak ada komentar:
Posting Komentar